Rabu, 01 Januari 2014

Tentara Air dari Lazuardi



Pernah dengarkah kau cerita tentang Lazuli dan Lazuardi? Aku akan menceritakanya padamu. Mereka adalah penyeimbang kehidupan dimuka bumi, mereka seperti sepasang kekasih yang dipertemukan untuk saling melengkapi dan menciptakan kesempurnaan. Lazuli hidup dimuka bumi, ia menjadi pemilik warna birunya lautan, sedangkan Lazuardi hidup dilangit tepatnya diangkasa raya, ia pemilik keelokan warna biru dilangit yang cerah. Aku tidak akan membahas dua sejoli itu terlalu lama, ada hal yang mengusiku lebih dari kesetiaan mereka, hal yang harus aku sampaikan pada banyak orang mengenai pesan dari lazuardi. Akhir-akhir ini Lazuardi sering pergi, ia banyak menitipkan pesan pada makhluk bumi. Tapi sayangnya, tak semua makhluk bumi menyadarinya bahkan mungkin makhluk Tuhan yang diciptkan-Nya paling sempurnalah yang tak mau tahu pesan yang dibawa Lazuardi. Tahukah kau pesan yang dibawanya? Ia membawa pesan dari surga melewati ribuan pasukan air yang dinamai Hujan. Sebenarnya aku tak begitu jelas membacanya, tapi aku berusaha menceritakanya padamu sebaik mungkin. Bayangkan saja, tak perlu kau mengeritkan kening untuk menelaahnya.
vvv
{Hari ini hujan turun seharian penuh}
Tiba-tiba saja banyak orang mencaci-maki karena acara mereka terhambat dengan turunya hujan, tiba-tiba saja pemberitaan dimedia massa mengulas bencana alam gara-gara hujan turun seharian dengan curah yang cukup tajam, tiba-tiba saja banyak orang-oarang sakit gara-gara cuaca yang berhujan, tiba-tiba saja pekarangan mengalami gagal panen, dan tiba-tiba lainya.
Adakah yang salah dengan turunya tentara surga ini? Mengapa hujan selalu dikambing hitamkan akan kegagalan urusan manusia? Bukankah hujan diciptakan sebagai rahmat bagi alam semesta? Tidakkah pernah kau menyadari untuk mencari-cari kesalahan yang datangnya darimu sendiri bukan dari pihak lain?
Lihatlah anak-anak yang bersorak gembira dengan turunya hujan untuk dijadikan tameng tidak masuk sekolah. Anak-anak yang mencuri-curi pengawasan Ayah Ibu untuk menikmati hujan bersama kawan-kawanya tidakkah kau menyadari kecintaan mereka pada tentara air ini?. Lihatlah, anak-anak dikota besar yang terlalu takut mengenal hujan karena segala batasan mereka, tidakkah kau peduli bahwa mereka ingin mengenal tentara air ini dengan baik tanpa berteman pencemaran?

{Malam ini hujan masih mengguyur}
Lihatlah, ruang keluarga yang biasanya hanya ada Ayah dan Ibu kini penuh dengan anak-anak remaja mereka, lihatlah kakak yang biasanya sibuk dengan teman-teman mereka kini mengusap-usap ubun-ubun adik bayi mereka, lihatlah gadget-gadget yang terlantar dikamar digantikan canda tawa dengan keluarga, lihatlah tempat kongkow-kongkow yang kurang memberi manfaat itu kini tak ada seorangpun pengunjung, lihatlah bagaimana Tuhan menyayangi ciptaan-Nya dengan ‘memaksa’ beristirahat sejenak…

{Kemarin hujan turun seharian bahkan sampai semalaman tadi}
Lihatlah dunia, pohon mawar dipekarangan rumah banyak kuncupnya yang malu-malu mekar. Bunga cantik manis memamerkan ke’imut’anya. Bunga-bunga dipohon jambu bermekaran (lihatlah!) para lebah berdatangan diatas bunganya yang putih cantik. Sepanjang jalan perkampungan mangga-mangga berjatuhan ditepi jalan dengan keikhlasan. Para penjajak bubur, nasi, dan sayuran pun terlihat segar dari istirahatnya yang damai semalaman ditemani rinai hujan. Anak-anak yang terlihat bingung dengan laron dipagi hari. Harum bau tanah yang menyegarkan suasana pagi hari. Para tetangga yang saling bertukar cerita tentang kesan hujan semalaman. Negri macam apa yang memiliki keelokan alam seajaib ini.  Negri macam apa ini yang seharusnya sangat dicintai penduduknya malah selalu dicaci maki. Negri macam apa ini yang penduduknya selalu memandang negri lain masih lebih hijau. Negri macam apa ini yang orangtuanya tak mengajari mensyukuri pemberian keajaiaban hujan? Dapatkah kau bayangkan jika tentara air marah, dan tak mau lagi turun ke bumi karena diolok-olok? Mungkin mereka punya pedoman:
“Engkau Yang Esa
Yang Perkasa
You give me reason to survive”
Kau tahu apa yang terjadi dengan anak-anak negri ini?
Lihatlah, kepulasan anak-anak ditengah guyuran hujan tengah malam tadi. Biarkan mimpi mereka berkelana. Tidak kah kau tahu? Mimpi mereka dibawa tentara air seizin Lazuardi untuk bermuara pada Lazuli, bukankah Lazuli akan menghantarkan mimpi mereka pada Lazuardi yang ada dilangit untuk disampaikan pada Tuhan agar cita-cita mereka tercapai? Untuk merubah nasib oarangtua mereka yang suka mengkambing hitamkan hujan. Bukankah tentara air itu yang membawa kesejahteraan bagi anak-anak dengan keberkahan yang abadi? Sehingga ia menjadi makhluk sempurna yang mengangkat derajat orangtuanya dibumi dan dilangit?
vvv
Mungkin aku hanya mampu memahami sekelumit pesan dari Si Lazuardi, sungguh aku tak pernah benar-benar mampu memahami isyarat-isyarat makhluk langit itu. Yang ku tahu, setiap kepergianya, langit selalu berubah menjadi warna kelabu yang disertai lolongan-lolongan yang menggelegar, menakutkan memang. Begitulah, sejak aku membaca sekelumit pesan Lazuardi, aku bertekad kelak akan membacakanya untuk anak-anak negri ini agar mencintai tentara air. Aku akan menjadi pendongeng setia mereka untuk membawakan pesan apapun dari Lazuardi, tetap mencintai negri ajaib ini. Aku akan menjadikan mereka mencintai tanah kelahiran mereka tanpa peduli dengan kemolekan negri lain. Aku akan menjadikan mereka penopang-penopang negri yang aman dan sejahtera. I will survive, I will revive… getting bigger bigger than life. Terdengar idealis memang,. Aku mencintainya, sebagaimana tentara air menyukai negri ini sehingga mempunyai keajaiban lebih dari negri-negri lainya. Tidak salah ‘kan jika aku mempunyai tekad, sesuatu yang tak terjelaskan.
I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
Kau berikan kekuatan untuk lewati semua ini



Tidak ada komentar:

Posting Komentar