Pernah
dengarkah kau cerita tentang Lazuli dan Lazuardi? Aku akan menceritakanya
padamu. Mereka adalah penyeimbang kehidupan dimuka bumi, mereka seperti
sepasang kekasih yang dipertemukan untuk saling melengkapi dan menciptakan
kesempurnaan. Lazuli hidup dimuka bumi, ia menjadi pemilik warna birunya
lautan, sedangkan Lazuardi hidup dilangit tepatnya diangkasa raya, ia pemilik
keelokan warna biru dilangit yang cerah. Aku tidak akan membahas dua sejoli itu
terlalu lama, ada hal yang mengusiku lebih dari kesetiaan mereka, hal yang
harus aku sampaikan pada banyak orang mengenai pesan dari lazuardi. Akhir-akhir
ini Lazuardi sering pergi, ia banyak menitipkan pesan pada makhluk bumi. Tapi
sayangnya, tak semua makhluk bumi menyadarinya bahkan mungkin makhluk Tuhan
yang diciptkan-Nya paling sempurnalah yang tak mau tahu pesan yang dibawa
Lazuardi. Tahukah kau pesan yang dibawanya? Ia membawa pesan dari surga melewati
ribuan pasukan air yang dinamai Hujan. Sebenarnya aku tak begitu jelas
membacanya, tapi aku berusaha menceritakanya padamu sebaik mungkin. Bayangkan
saja, tak perlu kau mengeritkan kening untuk menelaahnya.
vvv
{Hari ini hujan turun seharian penuh}
Tiba-tiba saja banyak orang mencaci-maki karena acara
mereka terhambat dengan turunya hujan, tiba-tiba saja pemberitaan dimedia massa
mengulas bencana alam gara-gara hujan turun seharian dengan curah yang cukup
tajam, tiba-tiba saja banyak orang-oarang sakit gara-gara cuaca yang berhujan,
tiba-tiba saja pekarangan mengalami gagal panen, dan tiba-tiba lainya.
Adakah yang salah dengan turunya tentara surga ini? Mengapa
hujan selalu dikambing hitamkan akan kegagalan urusan manusia? Bukankah hujan
diciptakan sebagai rahmat bagi alam semesta? Tidakkah pernah kau menyadari
untuk mencari-cari kesalahan yang datangnya darimu sendiri bukan dari pihak
lain?
Lihatlah anak-anak yang bersorak gembira dengan turunya
hujan untuk dijadikan tameng tidak masuk sekolah. Anak-anak yang mencuri-curi
pengawasan Ayah Ibu untuk menikmati hujan bersama kawan-kawanya tidakkah kau
menyadari kecintaan mereka pada tentara air ini?. Lihatlah, anak-anak dikota
besar yang terlalu takut mengenal hujan karena segala batasan mereka, tidakkah
kau peduli bahwa mereka ingin mengenal tentara air ini dengan baik tanpa
berteman pencemaran?
{Malam ini hujan masih mengguyur}
Lihatlah, ruang keluarga yang biasanya hanya ada Ayah dan
Ibu kini penuh dengan anak-anak remaja mereka, lihatlah kakak yang biasanya
sibuk dengan teman-teman mereka kini mengusap-usap ubun-ubun adik bayi mereka,
lihatlah gadget-gadget yang terlantar dikamar digantikan canda tawa dengan
keluarga, lihatlah tempat kongkow-kongkow yang kurang memberi manfaat itu kini
tak ada seorangpun pengunjung, lihatlah bagaimana Tuhan menyayangi ciptaan-Nya
dengan ‘memaksa’ beristirahat sejenak…
{Kemarin hujan turun seharian bahkan
sampai semalaman tadi}
Lihatlah dunia, pohon mawar dipekarangan rumah banyak
kuncupnya yang malu-malu mekar. Bunga cantik manis memamerkan ke’imut’anya. Bunga-bunga
dipohon jambu bermekaran (lihatlah!) para lebah berdatangan diatas bunganya
yang putih cantik. Sepanjang jalan perkampungan mangga-mangga berjatuhan ditepi
jalan dengan keikhlasan. Para penjajak bubur, nasi, dan sayuran pun terlihat
segar dari istirahatnya yang damai semalaman ditemani rinai hujan. Anak-anak
yang terlihat bingung dengan laron dipagi hari. Harum bau tanah yang
menyegarkan suasana pagi hari. Para tetangga yang saling bertukar cerita
tentang kesan hujan semalaman. Negri macam apa yang memiliki keelokan alam
seajaib ini. Negri macam apa ini yang
seharusnya sangat dicintai penduduknya malah selalu dicaci maki. Negri macam
apa ini yang penduduknya selalu memandang negri lain masih lebih hijau. Negri
macam apa ini yang orangtuanya tak mengajari mensyukuri pemberian keajaiaban
hujan? Dapatkah kau bayangkan jika tentara air marah, dan tak mau lagi turun ke
bumi karena diolok-olok? Mungkin mereka punya pedoman:
“Engkau Yang Esa
Yang Perkasa
You give me reason to survive”
Kau
tahu apa yang terjadi dengan anak-anak negri ini?
Lihatlah, kepulasan anak-anak ditengah guyuran hujan
tengah malam tadi. Biarkan mimpi mereka berkelana. Tidak kah kau tahu? Mimpi
mereka dibawa tentara air seizin Lazuardi untuk bermuara pada Lazuli, bukankah
Lazuli akan menghantarkan mimpi mereka pada Lazuardi yang ada dilangit untuk disampaikan
pada Tuhan agar cita-cita mereka tercapai? Untuk merubah nasib oarangtua mereka
yang suka mengkambing hitamkan hujan. Bukankah tentara air itu yang membawa
kesejahteraan bagi anak-anak dengan keberkahan yang abadi? Sehingga ia menjadi
makhluk sempurna yang mengangkat derajat orangtuanya dibumi dan dilangit?
vvv
Mungkin aku hanya mampu memahami sekelumit pesan dari Si
Lazuardi, sungguh aku tak pernah benar-benar mampu memahami isyarat-isyarat
makhluk langit itu. Yang ku tahu, setiap kepergianya, langit selalu berubah
menjadi warna kelabu yang disertai lolongan-lolongan yang menggelegar,
menakutkan memang. Begitulah, sejak aku membaca sekelumit pesan Lazuardi, aku
bertekad kelak akan membacakanya untuk anak-anak negri ini agar mencintai
tentara air. Aku akan menjadi pendongeng setia mereka untuk membawakan pesan
apapun dari Lazuardi, tetap mencintai negri ajaib ini. Aku akan menjadikan
mereka mencintai tanah kelahiran mereka tanpa peduli dengan kemolekan negri
lain. Aku akan menjadikan mereka penopang-penopang negri yang aman dan
sejahtera. I will survive, I will revive…
getting bigger bigger than life. Terdengar idealis memang,. Aku
mencintainya, sebagaimana tentara air menyukai negri ini sehingga mempunyai
keajaiban lebih dari negri-negri lainya. Tidak salah ‘kan jika aku mempunyai
tekad, sesuatu yang tak terjelaskan.
I will survive,
I will revive
I won't
surrender and stay alive
Kau berikan
kekuatan untuk lewati semua ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar