Minggu, 19 Januari 2014

Zeal!!



Pohon itu masih terlihat kokoh, sama seperti pertama kali kita bertemu dibawahnya empat tahun silam. Aku berteduh dibawahnya menghirup udara yang tercipta dengan bernostalgia bersama anganku sendiri. Dia tidak berubah, bahkan lebih terlihat gagah diusianya yang semakin menua. Mungkin dia menjadi saksi bisu tentang cerita kita yang belum bermuara. Aku telah mengagumimu sejak pertama bertemu denganmu, mungkin terdengar klise tapi apalah daya kata untuk menyeimbangi buncahan hati.
Aku lebih suka memanggilmu dengan kata ini: Zeal, kata akhir dari namamu yang biasanya digunakan sebagai yel-yel penyemangat.
Aku sangat senang ketika kamu memutuskan meneruskan pendidikan ditempat yang sama denganku. Katamu waktu itu kau hanya ingin meraih mimpi denganku. Tapi apalah arti ucapan laki-laki muda yang belum matang waktu itu, ucapanmu seperti nyanyian artis-artis dadakan yang lama-lama tak terdengar lagi ditelinga bahkan dimemori.
Seiring berjalanya waktu aku tahu bahwa hatiku tidak lagi berkata tentang persahabatan. Terkadang hati itu seperti koin logam yang dimainkan anak-anak untuk dibolak-balikan lempenganya, terkadang pula rasanya seperti dipermainkan keadaan. Tapi kau tahu, aku memilih tetap bertahan dengan keadaan ini meski terkadang perih datang ketika banyak perempuan-perempuan cantik disekitarmu, terlebih mereka pandai memoleskan riasan diwajahnya. Bukan sekedar perempuan tomboy yang tidak begitu peduli dengan berbagai jenis-jenis make-up.
Untukmu Zeal, aku masih ingat ketika kau mengajariku berani berada ditengah-tengah orang banyak. Malam itu akhirnya kita pergi bersama, berada ditengah-tengah hiruk pikuk acara konser Bondan Prakoso & Fade2Black. Malam itu gerimis memabasahi seluruh kota, hawa dingin menusuk pori-pori kulit, kita menikmati gerimis itu dimalam minggu. Aku benar-benar memperhatikanmu, kharisma laki-lakimu mempesona. Perempuan mana yang tidak jatuh hati diperlakukan seperti seorang ratu dengan setiap perhatian dari seorang gentlemant seperti kamu.
Mungkin jika orang menilaiku, aku terlalu bodoh untuk tetap bersamamu meski kadang kau lebih tertarik untuk bersenang-senang dengan perempuan-perempuan yang sampai aku tak hafal lagi namanya satu per satu. Aku ingat waktu kita tak sengaja bertemu dietalase toko itu, kau menyapaku setelah beberapa hari tak ada komunikasi antara kita. Sore itu kau mengiriu pesan singkat:
Kamu sperti malaikat yang datang menepis semua keresahan hatiku
Sore itu setelah membaca pesanmu aku menangis, terisak-isak dengan bantal tidurku sebagai peredam suara. Batinku bergejolak, lalu kemana saja kamu saat aku punya segudang keresahan hati???!
Tapi nyatanya, aku hanya mampu menulis sepenggal kata lelucon sebagai tameng buncahan perasaan hatiku.
Aku memperhatikanmu, kau sudah tumbuh lebih dewasa dari pertama kita bertemu. Kulihat ada warna pelangi yang berbeda tersirat. Entah cita atau cinta.
Aku belajar banyak tentang kehidupan ini bersamamu, rasanya dunia ini berubah ketika kau menawarkan persahabatan sejak saat itu. Itulah kata-kata makhluk Tuhan yang sedang dalam karunia kasih-Nya. Mungkin akan ditertawakan kedengaranya. Hatiku mulai tergantung pada dirimu, tapi ku tahu hatimu terpaut pada perempuan lain. Aku menyerah, kemampuan hatiku sudah diambang batas untuk menyimpan semua perasaan. Sejak saat itu aku memutuskan meninggalkanmu dan menghentikan saling menyakiti hati masing-masing, perasaanku kacau balau. Dan kau tahu Zeal, saat itu untuk pertama kalinya aku menangisi seorang laki-laki. Ah, sudahlah… bahkan aku tak tahu pasti bagaimana perasaan hatimu. Mulai dewasa, cemburu dan bungah… finally now, its our time to make a history.
Aku tersenyum, meski perih menjalar melumpuhkan akal sehatku. Semoga kamu selalu bahagia. Dalam setiap sunyi malam terdengar lirih suara berkata bahwa kau masih mengingatku, aku telah bangkit dari rasa penat yang menyayat hati dan dalam setiap do’a sebelum tidurku masih ada namamu yang terslip diantara do’a utamaku. Dimanapun kau berada, dibelahan dunia manapun kau berada, kau tetap sahabat yang tak bisa kuraih dengan jasad. Aku menepis semua perasaan yang melumpuhkan persahabatan kita. I will survive getting bigger. Iya, ini hanya tentang waktu, Zeal!.

19 Januari 2014
Mungkin hari ini kamu sudah entah ada dimana…
dimanapun kamu, semoga kebaikan selalu menyertaimu
J
Semoga segala sesuatu yang kamu lakukan berkah tak bertepi. Sayonara… sampai berjumpa lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar