Pohon itu masih
terlihat kokoh, sama seperti pertama kali kita bertemu dibawahnya empat tahun
silam. Aku berteduh dibawahnya menghirup udara yang tercipta dengan
bernostalgia bersama anganku sendiri. Dia tidak berubah, bahkan lebih terlihat
gagah diusianya yang semakin menua. Mungkin dia menjadi saksi bisu tentang
cerita kita yang belum bermuara. Aku telah mengagumimu sejak pertama bertemu
denganmu, mungkin terdengar klise tapi apalah daya kata untuk menyeimbangi
buncahan hati.
Aku lebih suka memanggilmu
dengan kata ini: Zeal, kata akhir
dari namamu yang biasanya digunakan sebagai yel-yel penyemangat.
Aku sangat senang
ketika kamu memutuskan meneruskan pendidikan ditempat yang sama denganku.
Katamu waktu itu kau hanya ingin meraih mimpi denganku. Tapi apalah arti ucapan
laki-laki muda yang belum matang waktu itu, ucapanmu seperti nyanyian
artis-artis dadakan yang lama-lama tak terdengar lagi ditelinga bahkan
dimemori.
Seiring berjalanya
waktu aku tahu bahwa hatiku tidak lagi berkata tentang persahabatan. Terkadang
hati itu seperti koin logam yang dimainkan anak-anak untuk dibolak-balikan
lempenganya, terkadang pula rasanya seperti dipermainkan keadaan. Tapi kau
tahu, aku memilih tetap bertahan dengan keadaan ini meski terkadang perih
datang ketika banyak perempuan-perempuan cantik disekitarmu, terlebih mereka
pandai memoleskan riasan diwajahnya. Bukan sekedar perempuan tomboy yang tidak begitu peduli dengan
berbagai jenis-jenis make-up.
Untukmu Zeal, aku masih
ingat ketika kau mengajariku berani berada ditengah-tengah orang banyak. Malam
itu akhirnya kita pergi bersama, berada ditengah-tengah hiruk pikuk acara
konser Bondan Prakoso & Fade2Black. Malam itu gerimis memabasahi seluruh
kota, hawa dingin menusuk pori-pori kulit, kita menikmati gerimis itu dimalam
minggu. Aku benar-benar memperhatikanmu, kharisma laki-lakimu mempesona.
Perempuan mana yang tidak jatuh hati diperlakukan seperti seorang ratu dengan
setiap perhatian dari seorang gentlemant
seperti kamu.
Mungkin jika orang
menilaiku, aku terlalu bodoh untuk tetap bersamamu meski kadang kau lebih
tertarik untuk bersenang-senang dengan perempuan-perempuan yang sampai aku tak
hafal lagi namanya satu per satu. Aku ingat waktu kita tak sengaja bertemu
dietalase toko itu, kau menyapaku setelah beberapa hari tak ada komunikasi
antara kita. Sore itu kau mengiriu pesan singkat:
Kamu
sperti malaikat yang datang menepis semua keresahan hatiku
Sore itu setelah
membaca pesanmu aku menangis, terisak-isak dengan bantal tidurku sebagai
peredam suara. Batinku bergejolak, lalu
kemana saja kamu saat aku punya segudang keresahan hati???!
Tapi nyatanya, aku
hanya mampu menulis sepenggal kata lelucon sebagai tameng buncahan perasaan
hatiku.
Aku memperhatikanmu,
kau sudah tumbuh lebih dewasa dari pertama kita bertemu. Kulihat ada warna
pelangi yang berbeda tersirat. Entah cita atau cinta.
Aku belajar banyak
tentang kehidupan ini bersamamu, rasanya dunia ini berubah ketika kau
menawarkan persahabatan sejak saat itu. Itulah kata-kata makhluk Tuhan yang
sedang dalam karunia kasih-Nya. Mungkin akan ditertawakan kedengaranya. Hatiku
mulai tergantung pada dirimu, tapi ku tahu hatimu terpaut pada perempuan lain. Aku
menyerah, kemampuan hatiku sudah diambang batas untuk menyimpan semua perasaan.
Sejak saat itu aku memutuskan meninggalkanmu dan menghentikan saling menyakiti
hati masing-masing, perasaanku kacau balau. Dan kau tahu Zeal, saat itu untuk
pertama kalinya aku menangisi seorang laki-laki. Ah, sudahlah… bahkan aku tak
tahu pasti bagaimana perasaan hatimu. Mulai
dewasa, cemburu dan bungah… finally now, its our time to make a history.
Aku tersenyum, meski
perih menjalar melumpuhkan akal sehatku. Semoga kamu selalu bahagia. Dalam
setiap sunyi malam terdengar lirih suara berkata bahwa kau masih mengingatku,
aku telah bangkit dari rasa penat yang menyayat hati dan dalam setiap do’a
sebelum tidurku masih ada namamu yang terslip diantara do’a utamaku. Dimanapun
kau berada, dibelahan dunia manapun kau berada, kau tetap sahabat yang tak bisa
kuraih dengan jasad. Aku menepis semua perasaan yang melumpuhkan persahabatan
kita. I will survive getting bigger.
Iya, ini hanya tentang waktu, Zeal!.
19
Januari 2014
Mungkin
hari ini kamu sudah entah ada dimana…
dimanapun kamu, semoga kebaikan selalu menyertaimu J
dimanapun kamu, semoga kebaikan selalu menyertaimu J
Semoga
segala sesuatu yang kamu lakukan berkah tak bertepi. Sayonara… sampai berjumpa
lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar